Jakarta – Bisnis MICE di Indonesia ke depan perlu melakukan transformasi. Dari sekadar penyelenggaraan event menjadi penciptaan pengalaman yang bernilai bagi wisatawan. Sehingga pengalaman tersebut diharapkan mampu memperkuat karakter destinasi, menggerakkan perekonomian lokal, sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di panggung MICE secara global.
Indonesia tidak hanya menawarkan tempat penyelenggaraan (venue), tetapi juga pengalaman khas dan berkesan yang menyertai setiap kegiatan. Secara tidak langsung dampak ekonomi sebuah event tidak berhenti ketika kegiatan berakhir. Manfaat ekonomi pada akhirnya mengalir ke berbagai sektor, mulai dari perhotelan, restoran, transportasi, UMKM, ekonomi kreatif, hingga penyerapan tenaga kerja lokal.
“Program Event by Indonesia sepanjang 2025, misalnya, tercatat menarik 12,20 juta pengunjung, melibatkan 20.877 UMKM, menyerap 257.561 tenaga kerja, serta menghasilkan perputaran ekonomi hingga Rp23,76 triliun,” aku Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa dalam rilis yang diterima, Senin (5/10).
Ditambahkan Ni Luh, berbagai kegiatan MICE membuka peluang bagi peserta untuk memperpanjang masa tinggal sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi di destinasi. Setelah mengikuti kegiatan utama, peserta dapat menikmati wisata perkotaan, kuliner, kebugaran (wellness), berbelanja produk lokal, serta mengunjungi beragam daya tarik wisata di sekitar lokasi acara.
Berdasarkan data ICCA GlobeWatch Business Analytics – Country & City Rankings 2025, Indonesia mencatatkan 110 pertemuan asosiasi internasional. Capaian tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat ke-37 dunia, ke-10 di Asia Pasifik, dan keempat di ASEAN.
Sehingga wisatawan yang datang, mereka dapat menggunakan transportasi, menginap di hotel, menikmati kuliner, berbelanja produk lokal atau oleh-oleh, dan mengunjungi daya tarik wisata di daerah tersebut. Karena itu, nilai sebuah event tidak berhenti ketika lampu panggung dimatikan atau ruang konferensi ditutup. “Wisatawan yang datang untuk urusan bisnis atau menghadiri acara tidak lagi sekadar mengikuti konferensi, rapat, atau menyaksikan konser. Mereka juga ingin menikmati daya tarik daerah setempat, mulai dari berbelanja dan menikmati wisata kuliner hingga mengunjungi berbagai atraksi wisata. Hal inilah yang perlu kita perkuat integrasinya sehingga seluruh elemen tersebut saling terhubung menjadi satu ekosistem yang solid,” tutupnya. (*)












